Lompat ke konten


Foto

Jepang : Gambaran dan Kenyataan


  • Please log in to reply
300 replies to this topic

#161 chihiro

chihiro

    .::There's a love between Men and Women::.

  • Sensei
  • 1.679 post
  • Gender:Female
  • Location:Bekasi
  • Interests:Baca Manga, nonton anime and I LUV Kenshin VERY MUCH!!!!!!!!

Post 29 September 2006 - 10:46

Oh, kerja di daerah cikarang yah...

Iyah sih betul bgt.. kl gak dibantuin palingan marah" (tereak") minta dibantuin.. kl gak ada y mau ngebantuin ngedumel deh.. hehehe.. *pengalama pribadi*

Gak kok, bhs jepang chi jg msh belepotan jauh bgt dr y namanya bgs.. khehehe...

btw, susachio , km jepangnya dimana nih?

kl udh balik jgn lupa oleh"nya wat chi.. khehehe..

oia, kl mo belajar bhs. jepang ke thread Nihong go no kaiwa ajah yah.. ^^v

#162 bakwan

bakwan

    Yattaaa!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPipPipPip
  • 1.935 post
  • Location:Penggorengan, dengan minyak yang mendidih
  • Interests:maem, bobo

Post 29 September 2006 - 11:21

yah tu dia, org jepang selain terkenal individualistis, tp individualistis yang "bertanggung jawab" artinya mereka senang melakukan segalanya sendiri selama masih mampu dan klo bisa tidak usah mengharapkan bantuan orang lain :D

#163 susachio

susachio

    Daa... Daa... Daa...

  • IndoAnime Junior
  • 3 post
  • Location:komono-cho

Post 30 September 2006 - 02:57

Aa...makasih atas infonya...

:P ..duh..dah pada mahir...harus mulai darimana.. :P..bener2 anak2 indo ini...ngga kalah sebenarnya sdm kita sama mereka....cuma kita kebanyakan orang aja he..he..he...

sachio di mie, dekat nagoya.......wah omiyage nya masih lama....gome ne

#164 dibudaisuke

dibudaisuke

    Kore de, mada mada darou!?

  • IndoAnimerz
  • PipPipPip
  • 53 post

Post 31 Oktober 2006 - 03:45

uda kebanyakan orang...kerjanya enak2an lagi...
bener2 indonesia tu negara yang paling enak...
tanaman apa aja bisa tumbuh....

coba di jepang....
udah lahannya sempit...
ga banyak tanaman yang bisa tumbuh...
apalagi klao fuyu...uda pada beku semua ga bisa dimakan....
makanya orang2 jepang pada workaholic

#165 Udi

Udi

    Tomerarenain datteba yo!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPip
  • 143 post
  • Gender:Male
  • Location:karawang city
  • Interests:now:manga reader

Post 03 Desember 2006 - 01:02

Hei moshi2

Ada yang mau ngasih tau gak, gimana sih caranya kerja dijepang,
pengin juga kayaknya nih kerja disono.
Caranya yang gampang gimana, biayanya berapa, kerjanya sebagai apa, dan gajinya berapa?

Arigatou gozaimasu.

#166 chihiro

chihiro

    .::There's a love between Men and Women::.

  • Sensei
  • 1.679 post
  • Gender:Female
  • Location:Bekasi
  • Interests:Baca Manga, nonton anime and I LUV Kenshin VERY MUCH!!!!!!!!

Post 05 Desember 2006 - 09:23

Kerja di jepang yah.. um.. chi ngak tau sih gimana caranya.. tp coba km cari" informasi ajah ke embassy jepang or ke Japan Foundation, mngkin mrk bs bantu...

ini websitenya : http://www.jpf.or.id/

ini alamatnya :
Kantor Jakarta
Alamat Kantor Jakarta: Summitmas I, Lantai 2-3
Jl. Jenderal Sudirman Kav. 61-62
Jakarta 12190 - INDONESIA
Telp.: (+62-21) 520 1266
Fax.: (+62-21) 525 5159


#167 PanzerAnime

PanzerAnime

    Yattaaa!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPipPipPip
  • 1.107 post

Post 05 Desember 2006 - 07:40

YO

weleh2 ko mau KP (kerja praktek) di Jepang sulit yah!?!
Kudu lulus tes baca kanji gituh deh (ajegile mambo kan)

Emang temen2 ada yang tau ga gimana biar kita bisa lanjutin kul(pengen S2 uy) di Jepang nyang cuman modal English doang??? mohon infonya makazih banyaks

#168 chihiro

chihiro

    .::There's a love between Men and Women::.

  • Sensei
  • 1.679 post
  • Gender:Female
  • Location:Bekasi
  • Interests:Baca Manga, nonton anime and I LUV Kenshin VERY MUCH!!!!!!!!

Post 06 Desember 2006 - 08:58

Humm... panzer bisa buka link y chi kasih di postingan chi sblmnya,
or bs ikutan milis J-I link aja nanti bs tanya" disana.

krm ajah email kosong ke sini : J-I_link-subscribe@yahoogroups.com


Gud lak.. :P

#169 PanzerAnime

PanzerAnime

    Yattaaa!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPipPipPip
  • 1.107 post

Post 06 Desember 2006 - 06:10

Wah
terimakasih banyaaaakkkkk sensei chi dikau memang baik hati bak bidadari di pagi hari

tengkyu pisan :question: :lol2: ------> only for sensei chi

#170 Udi

Udi

    Tomerarenain datteba yo!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPip
  • 143 post
  • Gender:Male
  • Location:karawang city
  • Interests:now:manga reader

Post 07 Desember 2006 - 09:42

Arigatou Chihiro san

Tapi setelah tak utak-atik kayaknya nggak ada. Situs itu kayaknya cuman buat pendidikan dan pelajaran bahasa jepang.

Mungkin langsung tanya depnaker kali ya?

Oye-oye... :lol: :lol2:

Atau mungkin ada yang mau beri masukan lagi, dari yang udah pernah magang apa gimana gituh?

Makasih banyak sebelumnya. :P :ym77: :ym77: :D

#171 PanzerAnime

PanzerAnime

    Yattaaa!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPipPipPip
  • 1.107 post

Post 09 Desember 2006 - 10:29

YO

aku baru degner2 niy dari JLCC katana bea hidup di Japs sono tuw mahal luar biasa (di Tokyo hampir 2x lipat dari LA) kalo menurut temen2 gimana??? benerkah sengeri gituh??
terus apabila kita skola ambil gawe part time apakah bisa menghidupi diri sendiri??

#172 Udi

Udi

    Tomerarenain datteba yo!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPip
  • 143 post
  • Gender:Male
  • Location:karawang city
  • Interests:now:manga reader

Post 15 Desember 2006 - 01:05

Kayaknya gitu deh.

Penghasilan gede tapi pengeluaran juga sama gedenya.
Duh seumpama ke JP bisa hidup nggak yah? :heart: :lol2: :huh:

#173 Udi

Udi

    Tomerarenain datteba yo!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPip
  • 143 post
  • Gender:Male
  • Location:karawang city
  • Interests:now:manga reader

Post 21 Desember 2006 - 04:19

Wah sepi nih, nggak ada yang jawab.
Pada kemana yah?

#174 chihiro

chihiro

    .::There's a love between Men and Women::.

  • Sensei
  • 1.679 post
  • Gender:Female
  • Location:Bekasi
  • Interests:Baca Manga, nonton anime and I LUV Kenshin VERY MUCH!!!!!!!!

Post 22 Desember 2006 - 09:51

Hem.. menurut apa y pernah chi baca dr forum J-I_link, kl cuma untuk hidup sehari" sih dr baito bisa.. tp kl untuk berkeluarga gak akan mencukupi..

Mengigat di jepang itu banyak bgt baito..
dan upahnya jg lumayan.. dibayar /jam.

Yah dimana" bgt sih.. penghasilan gede pengeluaran jg jd gede.. krn mengikuti biaya hidup..

contoh paling gampang liat ajah di indonesia.. misal kita baru pertama kali kerja, trus dpt gaji 1.2 jt.. selama 1/2 thn dgn gaji segitu kita bs mencukupi kebutuhan kita sehari"..
Nah 1/2 thn kemudian gaji kita naek jd 2jt.. pengeluaran kita jg otomatis jd ikutan naek.. krn mengikuti gaya hidup kita jg... kl dgn gaji besar kita kepengen ini lah - itu lah..
Chi jg begituh.. hihihihihihiii...

Jd kl cuma sekedar mau tinggal di Jepang tanpa ada pemikiran berkeluarga, kyna penghasilan dr Baito cukup deh.. kl kuat mlh km bs baito di bbrp tempat jd gak cuma ngandelin dr 1 tempat kerja ajah.. hehehehehe....

#175 Frenzz deMudfack

Frenzz deMudfack

    Tomerarenain datteba yo!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPip
  • 346 post

Post 22 Desember 2006 - 08:21

pengen tau apa klo kerja disana kita di gaji lebih rendah dari penduduk lokalnya gak..?

#176 uceenk

uceenk

    Kore de, mada mada darou!?

  • IndoAnimerz
  • PipPipPip
  • 62 post
  • Gender:Male
  • Location:Cimahi

Post 27 Desember 2006 - 02:34

ini ada artikel tentang kehidupan di jepang, sangat menyentuh
____________________________________

Rabu, 13 September 2006 06:18:38
Catatan Perjalanan
Dongeng dari Jepang
Oleh Yuli Setyo Indartono

BIROKRASI DI JEPANG

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan
beberapa kawan dekat kami di Jepang.

Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di
Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa
bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus.

Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi
saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.

Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan
"fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya
melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali.

Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua
urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.

Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor
walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya
sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor
kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana . Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.

Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum,
tentu saja kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal. Beberapa kawan
kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.

Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia . Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.

Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.

Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University , wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya.

Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.

Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School

#177 kurozanovski

kurozanovski

    Tomerarenain datteba yo!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPip
  • 390 post
  • Gender:Male
  • Location:X Sanctuary
  • Interests:-Denger musik<br />-manga (terutama muraeda n adachi mitsuru sensei)<br />-Ketawa<br />-nginep di masjid<br />-berbagai macam hal2 duniawi lainnya

Post 27 Desember 2006 - 05:56

:lol2: :lol2: Hikz... entah knp wa terharu banget dengan cerita diatas... TT_TT
mungkin karena emang menyedihkan ataw karena otak wa udah otomatis membandingkan jepun dengan republik kita ini...

pelayanannya di balai kota diatas juga sgt luar biasa..... cukup dgn opsi Ya/Tidak... proses dapat berlangsung! di negara kita mungkin disuruh buat esay dulu kali yah? dan waktu baca permintaan maaf si org PLN itu... wa itu ngebayangin "sumimasen"nya si Ricchan dari furuba yang ampe histeris geto

supermarket disini.... ampooon... Sampe2 ditulis GEDE GEDEEE.. :
MERUSAK BERARTI MEMBELI
wa ngebayangin tuh seberapa ramah muka pelayan toko itu waktu dia mengganti makanan yang padahal dirusak oleh pihak pembeli....
dan kalo di indo... jgnkan brg cacat... yg ada malahan brg dicacatin.. entah borax... entah ditusuk aer... entah formalin... bahkan ada beberapa yang timbangannya dilebih2in

saya jg ketawa ngebaca perbandingan polisi sini ama disana.... kita ketemu polisi disini perasaan dihati udah ngga enak aja... apalagi di priwitin? pasti maunya kabur aja kan??? iya kan?

lingkungannya ..... Hmmm... di indonesia... Ilegal loging (a.k.a pembalakan liar) tuh sekarang ngga cuma pemda yang nutup2in malah masyarakat ada yang ngelindungin segala... bagi mereka adanya calo kayu di indo tuh malah jadi lapangan pekerjaan....

TTTTT______TTTTTT sob sobbb sedih bgt kalo ngebandingin jepun sama jakarta

#178 Omoikane

Omoikane

    Tomerarenain datteba yo!!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPip
  • 283 post
  • Gender:Female
  • Location:Venus
  • Interests:Too many

Post 03 Maret 2007 - 02:48

menyadari negara kita yg kena bencana tapi kok yg mikirin n nolongin kok negara lainnnnn... dan jepang yg lebih sering kena bencana gempa n tsunami kok kita mala diem ajaaaa~

<{POST_SNAPBACK}>


mereka sudah memiliki warning system terhadap bencana alam yang baik, sehingga korbannya bisa diminimalisir..

indonesia juga sering kok mengirimkan pasukan bantuan...

#179 abarai

abarai

    Boku wa saikou da!!

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPipPip
  • 751 post
  • Gender:Male
  • Location:Ura Shinjuku
  • Interests:Fave Band : [Laruku, Merry, Dir en grey, Kagrra,]---The Best Four!!-- SID, Janne da Arc, Girugamesh, MUCC, Kemuri, NoGod, metronome, LM.C, Dennou Romeo, Tokyo Jihen, dorlis, D'espairsRay, DOREMIdan, Irokui, Ore Ska Band, Jinkaku Radio, Viored, Red Hot Chilli Peppers.....<br /><br />Fave Manga : SDK, Fantasista, Ippo, Doraemon, Vagabond, Death Note, dll...<br /><br />Fave Anime : Peace Maker, Samurai Seven, Samurai Champloo, Bleach, FMA, FMP, doraemon, BECK, School Rumble, NHK ni Youkosou, dll...<br /><br />Fave Musician : Ogawa Tetsuya(L' Arc~en~Ciel), Noriaki Tsuda(Kemuri), Niikura Kaoru(Dir en grey), Akiya(Kagrra,), Gara(Merry), Danchou(NoGod).....<br /><br />Fave Football Team : Italy n Japan [Nation], FC Parma [Club]....<br /><br />Fave Football Player : Hernan Crespo, Paolo Maldini, Shunsuke Nakamura, Mateja Kezman....<br /><br />Fave Food : Mie Ayam, Pempek Bu Dewi, Siomay Bang Karim, Shabu Shabu bkinan Mama....Ramen..!!<br /><br />Fave Drink : Milk, Coffee, Avocado Juice, MilkShake, Strawberry Milk

Post 24 April 2007 - 07:59

Wooooooooiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!
Gw mo nanya2 nie!!

Mnurut kabar burung yg gw denger,katanya band2 visual kei n pecintanya tuh dianggap kya sebuah komunitas aneh,,ya semacam otaku lah..iya ga sih??
trus2 katanya popularitas band2 viskei yg kita knal n gandrungi slama ini ga terlalu terkenal dijepang,,btul ga??

Klo ada yg tau bagi2 crita ya!!

#180 febri@nto

febri@nto

    Kore kara wa, kimi shika iranai...

  • IndoAnimerz
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 2.285 post
  • Gender:Male
  • Location:Jalan Pinsil
  • Interests:Art, music, world peace

Post 24 April 2007 - 10:06

Kayaknya bener deh. Jangankan band visual, band yang di Indo terkenal banget kayak Laruku aja banyak yang gak kenal lho di Jepang sana. Mereka kenalnya yang umum kayak Ayumi Hamasaki, Utada Hikaru, atau malah boysband2 :lol:




0 user(s) are reading this topic

0 anggota, 0 tamu, 0 pengguna anonimus